Pesan Ibuku

 

'Sreng... sreng... sreengg..' suara itu sering menjadi alarm  bangun tidurku. Tentu saja sumber suara itu dari ruang seni milik Ibu. Ruang seni apa? Ya, apalagi kalau bukan dapur rumah Bu Emi. Dapur yang menjadi ruang seni Ibu untuk memasak untuk keluarga kami, sesekali juga untuk keluarga orang lain (menerima pesanan). 


Masakan Ibu memang tak seperti menu restoran mewah, tapi rasanya enak di lidah. Masakan yang akan selalu ku rindukan ketika jauh dari rumah. Bukan karena menunya, tapi oleh siapa yang masak. Meski hanya sekadar tempe goreng, tumis kangkung, atau masakan sederhana lainnya, tidak masalah bagiku.


Pagi itu Ibu sedang menawariku masakan, "Mbak, mau makan apa hari ini?"

"Kering tempe, sayur kangkung sama jagung ya Bu"

"Yauda, Mbak tolong belikan jagungnya dulu ke Mbak Tuti ya"

"Siap Buu", ujarku sembari bergegas menuju toko sayur Mbak Tuti.


Sesampainya di rumah, Ibu melanjutkan bergiat di ruang seni yang sudah menjadi wilayah kekuasaannya.

"Mbak, apa ga pengen gantiin masak?", tanya Ibu menggodaku. "Katanya kalo di kos suka masak sendiri. Kalo di rumah kok ga nyentuh dapur sama sekali ya"

"Ndak, Ibu aja. Aku bantu yang lain.", jawabku sambil nyengir.

Ibu hanya tersenyum dan menggeleng pelan mendengar jawabku.

"Bu, aku ini cuma bisa masak sekadarnya aja. Paling ya goreng tempe sama telor itu udah jalan aman. Tapi Bu, aku penasaran. Nanti Suamiku, Ayah/Ibu mertuaku, gimana ya responnya kalo tau aku ga jago masak? Mereka bisa nerima ga ya Bu?"

"Oala Mbak Mbak. Kalo itu ya gampang aja," ucap Ibu sambil nyengir, seperti meledek ke arahku.

Dahiku mengernyit melihat respon Ibu.


"Gini lo Mbak. Pasti sebelum menikah kan Mbak mengenal dulu calonnya ini siapa. Kalian diskusi, gimana pandangan laki-laki itu soal urusan dapur. Syukur-syukur ya Mbak kalo bisa dapat suami dan keluarganya yang ga masalah kalo mbak ga bisa masak. Kan masih ada catering, bisa juga cari ART khusus untuk masak aja. Atau bisa aja nanti laki-laki itu yang jago masak. Ya kalo mau, Mbak sambil nambah-nambah skill masak juga. Kalau emang ga cocok ya pilih jalan terakhir Mbak."

"Apa Bu?"

"Cari calon suami dan calon mertua yang lain Mbak, namanya juga ga cocok", Ibu tertawa puas sekali.

Aku hanya menghela nafas panjang dan menggelengkan kepala mendengar jawaban Ibu. Bisanya Ibu dengan santainya melawak.


#5CC #5CCDAY8 #dioramacareerclass #bentangpustaka







Komentar